Gerimis
malam itu masih saja belum reda.Aku tetap saja menanti kepulangan Restu yang
selalu dia nantikan suara lembutnya. Aku
sangat rindu pada temanku dan rindu itu kurasa amat menyekam setelah
hampir satu tahun ini aku terpisah pada jarak. Restu sekolah di Manding sedangkan
saya sendiri meneruskan sekolahku di Makassar.
Bus yang
membawa Restu sudah berhenti dan penumpang berhuyung-huyung turun. Mataku sibuk
mencari Restu diantara kerumunan orang berlalu-lalang. Namun sayang tak ku
dapati Restu di sana. Janjinya untuk datang menemuiku kurasa itu hanya janji
belaka. Kesetiaanku untuk menunggunya di stasiun selama dua jam berlalu begitu
saja. Amat dingin yang kurasaka pada
malam itu, tapi hati kulah yang lebih merasakan dingin. Mimpiku yang
saat itu akan ku rasakan pelukan hangat Restu serasa melayang jauh bersama sepinya jalan .
Aku
masih saja berdiri termangu. Mataku sudah basah akan air mata, menahan gejola
hati yang kian membara.
“Hai…lama ya nunggu aku” ucap seseorang lembut.
aku berbalik arah. Mataku melotot terkejut melihat Restu telah berdiri di depanku seraya menunjukkan senyum manisnya. Aku hanya bisa tersenyum haru dan semenit kemudian aku segera merangkul Restu, melepaskan kerindukanku padanya selama ini.
“Hai…lama ya nunggu aku” ucap seseorang lembut.
aku berbalik arah. Mataku melotot terkejut melihat Restu telah berdiri di depanku seraya menunjukkan senyum manisnya. Aku hanya bisa tersenyum haru dan semenit kemudian aku segera merangkul Restu, melepaskan kerindukanku padanya selama ini.
“Kamu
membuatku hampir menangis Res” ucapku di sela isakan tangisnya.
“Bukan hampir tapi emang sudah kan?” candanya. Aku memukul kecil dadanya. Merasa haru sekaligus bahagia. Aku hanya tertawa kecil dan mendekapku erat.
“kita pulang yuk..” ajak Restu.
“Bukan hampir tapi emang sudah kan?” candanya. Aku memukul kecil dadanya. Merasa haru sekaligus bahagia. Aku hanya tertawa kecil dan mendekapku erat.
“kita pulang yuk..” ajak Restu.
Aku termangu
sesaat. Kecupan lembut yang begitu aku rindukan tak aku dapati saat itu. Sikap
Restu yang selau kaku tetap dia dapati meski telah satu tahun mereka
terpisah pada jarak. Restu bukanlah tipe cowok romantis. Restu adalah
cowok tegas dan bijaksana yang sering membuat canda dan lelucon. Namun begitu
Aku tetap sayang dan cinta dia. Aku sendiri yakin bahwa Restu juga mencintaiku.
Buktinya selama lebih tiga tahun aku dan dia pacaran tak sekalipun dia
menyakitiku. Restu selau membuatku tertawa diantara nada-nada humornya.
“Heh..kok
ngelamun sih, pulang yuk.” Kata Restu mengagetkanku. Aku mengangguk pelan dan
membiarkan dia menggandeng tanganku. Ada yang janggal saat itu kurasakan. Ya..
dia mau menggandengnya.
Satu
jam telah berlalu sia-sia. Restu tak kunjung datang malam itu sesuai janjinya
untuk menemuiku di taman. Aku hanya sabar menunggu meski setiap menit malam itu
kurasakan penuh dengan rasa iri ketika melihat pasangan yang lain tengah lalu
lalang dihadapanku. Romantis sekali. Aku jadi teringat akan kata-kata Alan tadi
siang yang membuat perasaanku bimbang.
“Coba
kamu pikir selama kamu pacaran apa yang sudah Restu kasih ke kamu. Cuma kasih
sayang? Itu kurang Res, apa kamu cukup puas dengan ngerasain kasih sayang itu
dan apa kamu sudah pernah dapat wujud dari kasih sayang itu?”
“maksud mu?”tanyaku tak mengerti.
“misalnya kalau dia apel dia ngasih setangkai mawar buat”
“Restu memang tidak pernah melakukannya An…” kataku datar.
“Lha terus kenapa kamu betah. Cowok nggak romantis gitu kenapa masih kamu pertahankan. Bisa makan ati tahu nggak! Boro-boro kamu dipegang saja tidak. Menurut ku cowok seperti itu tidak bisa menghargai arti cinta. kamu benda hidup Reski, yang kadang tapi sayangnya kamu bego jika harus rela menyerahkan hati mu pada dia.” ucap Alan panjang lebar yang selalu mengiang-ngiang di telingaku.
“maksud mu?”tanyaku tak mengerti.
“misalnya kalau dia apel dia ngasih setangkai mawar buat”
“Restu memang tidak pernah melakukannya An…” kataku datar.
“Lha terus kenapa kamu betah. Cowok nggak romantis gitu kenapa masih kamu pertahankan. Bisa makan ati tahu nggak! Boro-boro kamu dipegang saja tidak. Menurut ku cowok seperti itu tidak bisa menghargai arti cinta. kamu benda hidup Reski, yang kadang tapi sayangnya kamu bego jika harus rela menyerahkan hati mu pada dia.” ucap Alan panjang lebar yang selalu mengiang-ngiang di telingaku.
“Apa benar
kata Alan? Entahlah aku sendiri tak mengerti. Kadang aku sendiri sempat
berfikir apa benar Restu mencintaiku, karena selama ini dia bukanlah tipe cowok
romantis yang selau kuimpikan, Restu yang selau bersikap biasa bila bersamaku
dan anehnya semua itu kujalani begitu saja selama tiga tahun lebih, bukan waktu
yang singkat memang, karena itu aku selalu berusaha menepis jauh-jauh
kegundahanku soal cowok romantis.”
Tapi tidak
dengan malam itu. Ketidaksabaranku menunggunya yang molor datang membuat dia
semakin yakin kalau dia tidak menyayangiku ataupun mencintaiku lagi. Hubungan
itu hanya sebagai hubungan berstatus pacaran tapi tanpa cinta. Meskipun tiga
tahun yang lalu dia resmi mengikrarkan cintanya padaku.
“Kamu lama ya menugguku? Maaf mobilku mogok tadi” kata Restu menghentikan niatku yang ingin meniggalkan taman saat itu juga.
“Tidak ada alasan lain?” Tanyaku sinis.diapun menatapku dengan janggal.
“Kamu marah yaa?”, tanyanya datar.
aku hanya acuh tak acuh. aku ingin tahu bagaimana reaksinya jika melihatku marah.aku hanya ingin dia mengerti apa yangku iginkan, menjadi cowok romantis itulah mimpinya. Tidak seperti saat itu. aku dan dia duduk dalam jarak setengah meter. Tidak dekat dan mesra-mesraan seperti pasangan lain malam itu.
“maafin aku, tapi mobilku emang tadi mogok.”
“Kamu kan bisa telepon atau sms aku, bukan dengan cara membiarkanku menuggumu kayak gini.”
“Aku lupa bawa Hp.”, ucapnya pelan. Aku tetap tak mengindahkannya.
“Kamu tahu tidak, malam ini aku semakin yakin kalau kamu memang tidak pernah serius mencintaiku” paparku tersendat.
“kenapa kamu bicara seperti itu. Apa kamu kira selama tiga tahun lebih kita pacaran aku hanya iseng saja. Aku pikir kamu bisa paham tentang aku, tapi nyatanya…”
“Ya aku memang tidak paham tentang kamu. Kamu yang kaku dan beku bila di sampingku yang tidak pernah mengucapkan kalimat-kalimat indah di telingaku. Kamu yang tidak pernah berkata aku cinta kamu. Kamu yang tidak memberiku perhatian-perhatian romantis selama ini. Kamu..kamu membuatku muak dengan semua ini”, kataku dengan nada tersendat.
Mataku telah tergenang air hangat sunguhku tidak sanggup lagi membendungnya.
“Jadi kamu pikir cinta cuma bisa diungkapkan dengan keromantisan, kamu kira apa hubunga kita terjalin tanpa rasa apa-apa dariku?”, tanyanya.
aku masih terdiam bisu dalam tangisku.
“..selama ini aku mengira kamu sudah mengerti banyak tentang aku, tapi ternyata aku salah. Kamu bukan milikkuku yang dulu..”
“Kamu memang salah menilai aku dan akupun juga salah menilai kamu. Menilai tentang hatimu dan tentang cintamu selama ini”
“Perlu kamu tahu aku sangat mencintaimu dan sayangnya rasa cintaku ini harus kamu tuntut dengan keromantisan”
“Aku tidak bermaksud menuntut, aku cuma ingin hubungan kita indah seperti orang lain”
“Wujud dari keindahan itu bukan terletak pada keromantisan tapi terletak pada cinta itu sendiri. Aku tidak pernah mengucapkan kalimat-kalimat indah di telingamu. aku yang tidak pernah berkata aku cinta kamu. Aku sayang kamu ‘’
“Kamu lama ya menugguku? Maaf mobilku mogok tadi” kata Restu menghentikan niatku yang ingin meniggalkan taman saat itu juga.
“Tidak ada alasan lain?” Tanyaku sinis.diapun menatapku dengan janggal.
“Kamu marah yaa?”, tanyanya datar.
aku hanya acuh tak acuh. aku ingin tahu bagaimana reaksinya jika melihatku marah.aku hanya ingin dia mengerti apa yangku iginkan, menjadi cowok romantis itulah mimpinya. Tidak seperti saat itu. aku dan dia duduk dalam jarak setengah meter. Tidak dekat dan mesra-mesraan seperti pasangan lain malam itu.
“maafin aku, tapi mobilku emang tadi mogok.”
“Kamu kan bisa telepon atau sms aku, bukan dengan cara membiarkanku menuggumu kayak gini.”
“Aku lupa bawa Hp.”, ucapnya pelan. Aku tetap tak mengindahkannya.
“Kamu tahu tidak, malam ini aku semakin yakin kalau kamu memang tidak pernah serius mencintaiku” paparku tersendat.
“kenapa kamu bicara seperti itu. Apa kamu kira selama tiga tahun lebih kita pacaran aku hanya iseng saja. Aku pikir kamu bisa paham tentang aku, tapi nyatanya…”
“Ya aku memang tidak paham tentang kamu. Kamu yang kaku dan beku bila di sampingku yang tidak pernah mengucapkan kalimat-kalimat indah di telingaku. Kamu yang tidak pernah berkata aku cinta kamu. Kamu yang tidak memberiku perhatian-perhatian romantis selama ini. Kamu..kamu membuatku muak dengan semua ini”, kataku dengan nada tersendat.
Mataku telah tergenang air hangat sunguhku tidak sanggup lagi membendungnya.
“Jadi kamu pikir cinta cuma bisa diungkapkan dengan keromantisan, kamu kira apa hubunga kita terjalin tanpa rasa apa-apa dariku?”, tanyanya.
aku masih terdiam bisu dalam tangisku.
“..selama ini aku mengira kamu sudah mengerti banyak tentang aku, tapi ternyata aku salah. Kamu bukan milikkuku yang dulu..”
“Kamu memang salah menilai aku dan akupun juga salah menilai kamu. Menilai tentang hatimu dan tentang cintamu selama ini”
“Perlu kamu tahu aku sangat mencintaimu dan sayangnya rasa cintaku ini harus kamu tuntut dengan keromantisan”
“Aku tidak bermaksud menuntut, aku cuma ingin hubungan kita indah seperti orang lain”
“Wujud dari keindahan itu bukan terletak pada keromantisan tapi terletak pada cinta itu sendiri. Aku tidak pernah mengucapkan kalimat-kalimat indah di telingamu. aku yang tidak pernah berkata aku cinta kamu. Aku sayang kamu ‘’
Dadaku
berdesir seketika. Segeraku tatap mata teduhnya. Disanaku dapati keteduhan
cinta dan kasihnya.
“jika kamu anggap cinta cuma bisa dinyatakan dengan sentuhan-sentuhan keromantisan itu salah. Cinta bukan cuma itu saja. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menjaga hubungan suci itu tetap suci sampai kita benar-benar terikat pada hubungan yang halal. Selama ini aku kira kamu bisa mengrti itu semua. Tapi aku salah dan untuk itu aku minta maaf jika aku tidak bisa menjadi seperti apa yang kamu mau”
“aku cuma..”, ucapku tak terteruskan.
Ada rasa sesak yang keluar begitu saja di hatiku.aku telah melukainya dan itu bisaku lihat dari kalimat datarnya.
“Kamu tidak salah dalam hal ini. Dan sepautnya aku melepaskanmu malam ini, membiarkanmu mencari cowok romantis seperti harapanmu. Jangan kamu kira aku tidak pernah mencintaimu, karena itu membuatku terluka. Jujur selama hidupku aku tidak pernah memikirkan gadis lain selain dirimu”
Bersaman kalimat itu dia berlalu meninggalkanku. Entah…kenapa bibiru tak mampu mencegah langkahnya. Semuaku rasa bagai mimpi. Hanya dengan satu kesalahan yang ku buat semua berakhir dalam sekejap. Air matakupun sudah mengalir deras. Seharusnya aku bangga memilikinya yang tidak pernah neko-neko. Seharusnya aku tidak mendengarkan pendapat-pendapat Alan tentang cowok romantis. Seharusnya aku tidak membuat Restu terluka saat itu.
“jika kamu anggap cinta cuma bisa dinyatakan dengan sentuhan-sentuhan keromantisan itu salah. Cinta bukan cuma itu saja. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menjaga hubungan suci itu tetap suci sampai kita benar-benar terikat pada hubungan yang halal. Selama ini aku kira kamu bisa mengrti itu semua. Tapi aku salah dan untuk itu aku minta maaf jika aku tidak bisa menjadi seperti apa yang kamu mau”
“aku cuma..”, ucapku tak terteruskan.
Ada rasa sesak yang keluar begitu saja di hatiku.aku telah melukainya dan itu bisaku lihat dari kalimat datarnya.
“Kamu tidak salah dalam hal ini. Dan sepautnya aku melepaskanmu malam ini, membiarkanmu mencari cowok romantis seperti harapanmu. Jangan kamu kira aku tidak pernah mencintaimu, karena itu membuatku terluka. Jujur selama hidupku aku tidak pernah memikirkan gadis lain selain dirimu”
Bersaman kalimat itu dia berlalu meninggalkanku. Entah…kenapa bibiru tak mampu mencegah langkahnya. Semuaku rasa bagai mimpi. Hanya dengan satu kesalahan yang ku buat semua berakhir dalam sekejap. Air matakupun sudah mengalir deras. Seharusnya aku bangga memilikinya yang tidak pernah neko-neko. Seharusnya aku tidak mendengarkan pendapat-pendapat Alan tentang cowok romantis. Seharusnya aku tidak membuat Restu terluka saat itu.
Bus sudah berangkat dua menit setelah aku tiba di
sana. aku berlari kesana-kemari memanggil-manggil nama Restu dari bus satu ke
bus lain. Namun usahaku itu tanpa hasil. buspun dengan perlahan telah membawalnya
dan juga cintanya pergi jauh. aku berdiri terpaku melihat bus yang kian
menjauh. Sesalku menumpuk. aku datang terlambat hingga tidak sempat mengatakan maaf kepadanya.
Kini aku mulai sadar bahwa tidak ada yang lebih bisa membahagiakanku kecuali dengannya Bagaimanapun dia, romantis ataupun tidak dialah orang yang benar-benar aku cintai. Kenangan-kengan indah bersamanya walau tanpa kemesraan saat itu. Asanya telah pergi dan itu cuma bisau lakukan dengan menangis terpaku di tempatnya berdiri. Hidupku tiada arti tanpaya, dengan mencintainya apa adanya itu sudah lebih dari cukup. Tidak ada lagi tuntutan untuk dia berubah menjadi Ulul yang romantis. Rasa sesal telah membuatku menyimpan permintaan maaf untuknya.
Sampai dadaku tersentak merasakan tangan seseorang meraih bahuku. Ia menatap tajam wajah itu. Mata teduh yang selalu membuatku merasa damai jika didekatnya. Kelembutan jiwanya senantiasa menyuguhkan warna indah dalam memori dan sungguh tidak ada yang lebih romantis selain dia….
Kini aku mulai sadar bahwa tidak ada yang lebih bisa membahagiakanku kecuali dengannya Bagaimanapun dia, romantis ataupun tidak dialah orang yang benar-benar aku cintai. Kenangan-kengan indah bersamanya walau tanpa kemesraan saat itu. Asanya telah pergi dan itu cuma bisau lakukan dengan menangis terpaku di tempatnya berdiri. Hidupku tiada arti tanpaya, dengan mencintainya apa adanya itu sudah lebih dari cukup. Tidak ada lagi tuntutan untuk dia berubah menjadi Ulul yang romantis. Rasa sesal telah membuatku menyimpan permintaan maaf untuknya.
Sampai dadaku tersentak merasakan tangan seseorang meraih bahuku. Ia menatap tajam wajah itu. Mata teduh yang selalu membuatku merasa damai jika didekatnya. Kelembutan jiwanya senantiasa menyuguhkan warna indah dalam memori dan sungguh tidak ada yang lebih romantis selain dia….







0 komentar:
Posting Komentar